Di artikel sebelumnya kita membahas kenapa criteria-based progression lebih baik daripada sekadar menghitung minggu. Pertanyaan wajar berikutnya dari sesama fisioterapis: kriteria konkretnya apa? Berapa target LSI yang realistis di tiap fase, dan kapan idealnya pasien “naik kelas” ke tahap berikutnya? Artikel ini merangkum kerangka lima fase yang cukup baru dipublikasikan di Arthroscopy (Petterson dkk., 2025), yang memetakan target fungsional per fase secara eksplisit—berguna sebagai kerangka acuan, bukan resep kaku.
Fase awal (minggu 0–6). Fokus mengendalikan nyeri dan bengkak, mengembalikan rentang gerak (ROM), dan mengaktifkan kembali quadriceps yang mengalami inhibisi pasca operasi—modalitas seperti NMES (neuromuscular electrical stimulation) sering membantu di fase ini. Latihan rantai kinetik terbuka (OKC) bisa mulai diperkenalkan setelah izin dokter bedah, dengan progresi hati-hati agar tidak membebani graft berlebihan. Target keluar dari fase ini: quadriceps LSI ≥60%.
Fase intermediate (minggu 7–9). Dimulai setelah ROM mencapai 0–115°, efusi ≤1+, dan pola jalan sudah normal. Fokus bergeser ke latihan keseimbangan, re-edukasi neuromuskular, dan conditioning aerobik. Target: ROM penuh simetris dan quadriceps LSI ≥70%, dicapai lewat program penguatan progresif yang terstruktur.
Fase lanjut (minggu 10–16). Lari mulai diperkenalkan ketika quadriceps LSI mencapai ≥80%, dengan penekanan pada mekanika mendarat yang baik. Latihan kekuatan berlanjut lebih intensif, biasanya berbasis gym, dengan target LSI 75–80% ke atas.
Fase transisi (bulan 4–6). Mulai memasukkan jumping, sprinting, deselerasi, dan latihan agility. Target LSI kekuatan quadriceps dan hop test naik ke ≥85%.
Fase return to sport (bulan 6–12). Menekankan latihan spesifik olahraga dan conditioning menjelang kompetisi. Clearance penuh idealnya diberikan bila tidak ada nyeri/efusi, LSI kekuatan quadriceps dan hop test ≥90%, serta tingkat kepercayaan diri/rasa takut cedera ulang sudah dievaluasi.
Yang membuat kerangka ini praktis adalah setiap fase punya syarat masuk sekaligus syarat keluar yang jelas—bukan cuma “sudah berapa minggu”. Ini konsisten dengan yang kita bahas soal criteria-based progression: waktu (9–12 bulan total, sesuai rentang yang umum disebut) tetap jadi batas biologis minimum, tapi kelulusan tiap fase ditentukan pencapaian fungsional. Praktik ini juga selaras dengan pedoman Aspetar untuk rehabilitasi pasca ACLR, yang menekankan return to running dan return to training sebagai milestone kunci—meski pedoman itu sendiri mengakui belum ada konsensus kuat soal kriteria progresi/discharge yang pasti.
Idealnya, pengukuran LSI dilakukan dengan dynamometer atau force plate untuk data yang presisi—tapi tidak semua klinik punya akses ke alat tersebut. Di situasi keterbatasan alat, tes fungsional yang lebih sederhana (single-leg squat dengan hitungan repetisi sampai gagal, timed single-leg stance, atau observasi kualitas gerak yang terstruktur) tetap bisa memberi sinyal kasar—asal dilakukan konsisten dan didokumentasikan, bukan sekadar kesan subjektif. Yang penting bukan alatnya semahal apa, tapi konsistensi mengukur dan mendokumentasikan di setiap kunjungan.
Satu hal yang cukup membantu di praktik sehari-hari: mendokumentasikan LSI dalam format yang konsisten di setiap kunjungan—misalnya tabel sederhana per fase—membuat tren pemulihan pasien terlihat jelas dari waktu ke waktu, bukan sekadar angka tunggal yang berdiri sendiri. Format yang konsisten ini juga memudahkan komunikasi progres ke dokter rujukan atau pelatih tim, tanpa perlu menjelaskan ulang seluruh kerangka evaluasi setiap kali ada pertanyaan soal kesiapan pasien.
Beberapa jebakan yang sering muncul, baik dari diskusi sesama fisioterapis maupun supervisi klinis:
Kerangka fase yang baik hanya akan bermanfaat kalau diterapkan dengan penalaran klinis yang konsisten, bukan sekadar dijadikan checklist administratif.
LSI adalah rasio performa kaki cedera terhadap kaki sehat, dinyatakan dalam persen (misalnya kekuatan kaki cedera dibagi kekuatan kaki sehat, dikali 100).
Karena secara biologis quadriceps mengalami inhibisi signifikan pasca operasi—memaksakan target tinggi di minggu-minggu awal berisiko memaksa kompensasi pola gerak yang salah. Target dinaikkan bertahap seiring pemulihan neuromuskular.
Tidak. Ini kerangka acuan, bukan resep tunggal—kondisi penyerta (cedera meniskus, tipe graft, usia, tuntutan olahraga) tetap memengaruhi kecepatan progres masing-masing pasien.
Handheld dynamometer adalah pilihan yang cukup terjangkau dan banyak dipakai di klinik fisioterapi olahraga untuk estimasi kekuatan; force plate dan isokinetic dynamometer memberi data lebih presisi tapi butuh investasi lebih besar.
Prinsip criteria-based-nya tetap relevan, tapi ambang waktu dan targetnya perlu disesuaikan. Pasien dengan manajemen konservatif tidak melalui fase pemulihan graft pasca bedah, sehingga sebagian milestone waktu di kerangka ini—yang disusun untuk pasien pasca rekonstruksi—tidak otomatis berlaku sama dan idealnya dievaluasi tersendiri berdasarkan stabilitas fungsional pasien.